001. Al Fatihah ayat 1-7

Al-Fatihah:1

 بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Makna Kata :

Al-Basmalah adalah ketika seorang berucap bismillahirrahmaanirrahiim

Al-Ismu adalah lafadz yang menjadi penamaan bagi sesuatu sehingga dapat dikenali dan dibedakan dari yang lainnya.

Allah adalah nama bagi dzat Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Suci yang biasa dikenal dengan penamaan tersebut.

Ar-Rahmaan adalah salah satu dari nama-nama Allah Ta’ala yang merupakan bentuk turunan dari kata rahmat. Menunjukkan bahwa Allah memiliki banyak rahmat untuk hamba-hambaNya.

Ar-Rahiim merupakan nama dan sifat Allah Ta’ala, bentuk turunan dari kata rahmat berarti Allah memiliki kasih sayang untuk hamba-hambaNya dan memberikannya untuk mereka di dunia dan di akhirat.

Hukum Membaca Basmalah :

Ditekankan dan disyariatkan bagi orang yang akan membaca salah satu surat dalam al-Qur’an, untuk memulainya dengan Basmalah. Kecuali saat membaca surat At-Taubah, maka tidak perlu membaca basmalah. Tetap membaca basmalah secara pelan ketika membaca surat walaupun dalam sholat wajib jahriyah.

Disunnahkan untuk membaca bismillah ketika hendak makan dan minum, memakai pakaian, ketika masuk atau keluar dari masjid, ketika mengendarai kendaraan, dan setiap melakukan perkara yang baik. Kemudian diwajibkan untuk mengucapkan bismillahi allahu akbar ketika menyembelih binatang.

Tafsir :

Aku mulai membaca Al-Qur`ān ini dengan menyebut nama Allah dengan tujuan memohon pertolongan kepada-Nya dan berharap keberkahan dengan penyebutan nama-Nya.

Lafal Basmalah mengandung tiga nama Allah yang sangat baik, yaitu: Allah, Ar Rahman dan Ar Rohim

1. Allah ( ٱللّه adalah merupakan nama Untuk Robb Yang Maha banyak berkahnya lagi Maha Tinggi, zat yang berhak diibadahi yang tidak ada yang lain selain-Nya. Dan ini adalah merupakan nama paling khusus diantara nama-nama Allah ta'ala yang tidak dinamai dengan nama ini selain Allah yang Maha banyak berkahnya lagi Maha Tinggi. Sehingga siapa pun selain-Nya tidak diperkenankan menyandang nama tersebut

2. الرَّحْمَنِ  (yang maha pengasih) yang memiliki Rahmat umum dan luas yang meliputi seluruh makhluk.

3. الرَّحِيمِ (yang maha penyayang) yakni kepada orang-orang Mukmin. Dia merahmati siapa pun yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya, di antaranya hamba-hamba-Nya yang beriman

Dan keduanya ( ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ ) merupakan dua nama diantara nama Allah ta’ala yang keduanya mencakup penetapan sifat Rahmah (menyayangi) bagi Allah sebagaimana yang layak bagi keagungannya.

Al-Fatihah:2

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,

Makna kata : 

Al-Hamdu adalah Penyifatan kepada Allah berupa keindahan dan pujian untuk Dzat yang Maha Terpuji karena keutamaan dan anugerahNya, seperti bentuk sanjungan dan untaian rasa syukur.

Lillahi : Huruf Lam adalah salah satu huruf jar yang memiliki arti kepemilikan, yaitu bahwa Allah satu-satunya yang berhak memiliki segala bentuk pujian. Allah adalah nama bagi Dzat Tuhan yang Maha Tinggi lagi Maha suci.

Ar-Rabb artinya adalah Tuhan yang menguasai, merajai, memperbaiki, dan Tuhan yang berhak untuk disembah. Maha Suci Allah.

Al-‘Aalamiin merupakan bentuk jamak (plural) dari ‘aalam. Yaitu semua hal selain Allah Ta’ala. Seperti malaikat, jin, manusia, hewan, dan tetumbuhan.

Tafsir : 

Lafal ayat ini merupakan kalimat berita, dimaksud sebagai ungkapan pujian kepada Allah, yaitu bahwa Allah Taala adalah yang memiliki semua pujian yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya. Atau makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Taala itu adalah Zat yang harus mereka puji.

Pujian kepada Allah dengan sifat-sifatnya yang semuanya merupakan sifat-sifat kesempurnaan dan karena nikmat-nikmat nya yang nampak maupun yang tersembunyi, yang bersifat agamawi maupun duniawi, yang didalamnya terkandung perintah bagi para hambanya atau seluruh Makhluk-Nya, yaitu terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan-hewan melata dan lain-lainnya untuk memuji-Nya karena Dialah satu-satunya yang berhak mendapat pujian. 

Sebab Dialah yang mengadakan semua makhluk, yang menangani urusan-urusan mereka, yang mengatur seluruh makhlukNya dengan nikmat-nikmat nya dan membimbing para wali-Nya dengan iman dan amal sholeh.

Masing-masing mereka disebut alam. Oleh karenanya ada alam manusia, alam jin dan lain sebagainya. Lafal 'al-`aalamiin ( ٱلْعَـٰلَمِينَ )' merupakan bentuk jamak dari lafal '`aalam ( عالم )', yaitu dengan memakai huruf ya dan huruf nun untuk menekankan makhluk berakal/berilmu atas yang lainnya. Kata 'aalam ( عالم ) berasal dari kata ( علامة ) alaamah (tanda) mengingat ia adalah tanda bagi adanya yang menciptakannya.

Al-Fatihah:3

ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,

Yaitu yang mempunyai rahmat. Rahmat ialah menghendaki kebaikan bagi orang yang menerimanya. Yang Maha Pengasih  (الرَّحْمَنِ) maksudnya yang memiliki Rahmat umum yang mencakup seluruh alam, Yang Maha Penyayang (الرَّحِيمِ) yakni terhadap orang-orang Mukmin. dan keduanya merupakan dua nama diantara nama-nama Allah. Dan ini merupakan sanjungan untuk Allah -Ta'ālā- setelah memuji-Nya di ayat sebelumnya.

Al-Fatihah:4

مَـٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ
Pemilik hari pembalasan.

Makna kata :

Al-Maalik dengan bacaan panjang pada huruf mim adalah Sang Pemilik Kerajaan yang bebas mengatur sesuai dengan kehendakNya.

Al-Malik adalah Sang Penguasa yang dapat memerintah dan melarang, yang Maha memberi dan menolak tanpa ada yang mampu turut campur atau melawan-Nya.

Yaumid diin adalah hari pembalasan, yaitu hari kiamat ketika Allah membalas seluruh perbuatan masing-masing hamba.

Tafsir :

Yaitu di hari kiamat kelak. Ini adalah pengagungan kepada Allah -Ta'ālā- bahwa Dialah satu satunya penguasa dan pemilik segalanya pada hari Kiamat, yaitu saat tak satu jiwa pun memiliki kuasa atas jiwa lainnya. oleh sebab itu Lafal 'yaumuddiin' disebutkan secara khusus (padahal hari didunia juga milik Allah), karena di hari itu tiada seorang pun yang mempunyai kekuasaan, kecuali hanya Allah Taala semata. Allah Ta'ala berfirman :

لِّمَنِ ٱلْمُلْكُ ٱلْيَوْمَ ۖ لِلَّهِ ٱلْوَٰحِدِ ٱلْقَهَّارِ

"Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat)? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan." (Q.S. Al-Mukmin (40) : 16)


Makna "Yaumud-dīn" ialah hari pembalasan dan perhitungan atas amal perbuatan.

Dalam bacaan seorang muslim terhadap ayat ini dalam setiap rokaat dari shalat-salatnya, terkandung peringatan baginya akan datangnya hari akhir dan juga memberi motivasi kepadanya untuk mempersiapkan diri dengan amal Shalih dan menahan diri dari maksiat-maksiat dan segala keburukan keburukan.

Bagi orang yang membacanya 'maaliki' dengan memanjangkan mim maknanya menjadi "Dia Yang memiliki semua perkara di hari kiamat". Atau Dia adalah Zat yang memiliki sifat ini secara kekal, perihalnya sama dengan sifat-sifat-Nya yang lain, yaitu seperti 'ghaafiruz dzanbi' (Yang mengampuni dosa-dosa) QS. Al Mukmin (40) : 3. Dengan demikian maka lafal 'maaliki yaumiddiin' ini sah menjadi sifat bagi Allah, karena sudah ma`rifah (dikenal).

Al-Fatihah:5

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Kami mengkhususkan segala jenis peribadatan dan ketaatan hanya kepada-Mu, seperti mengesakan dan lain-lainnya dan kami tidak menyekutukan-Mu dengan siapa pun. Hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan dalam semua urusan kami Sebab semua urusan berada di tangan-Mu dan dalam menghadapi semua hamba-Mu dan lain-lainnya. karena segala kebaikan hanya ada di tangan-Mu dan tidak ada penolong kami selain-Mu.

Dan dalam ayat ini terkandung petunjuk bahwa seorang hamba tidak boleh melakukan sesuatu pun dari jenis-jenis ibadah seperti berdoa, Istighosah, menyembelih dan thowaf kecuali  untuk Allah Semata, dan di dalamnya juga terkandung obat hati dari penyakit berupa bergantung kepada selain Allah, dan dari penyakit riya, ‘ujub dan sombong.

Al-Fatihah:6

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus,

Tunjukilah dan bimbinglah kami serta berilah Taufik bagi kami menuju jalan yang lurus, teguhkanlah kami di atasnya serta tambahkanlah hidayah bagi kami hingga kami bertemu dengan-Mu kelak. Ṣirāṭ al-Mustaqīm" adalah jalan yang terang serta tak berkelok yaitu agama Islam yang merupakan Jalan yang jelas  yang menyampaikan kepada keridhoan Allah dan kepada surga-Nya yang telah ditunjukkan oleh penutup para Rosul dan Para Nabi Allah, yaitu  Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. maka tidak ada jalan menuju kebahagiaan bagi seorang hamba kecuali dengan Istiqomah di atas jalan tersebut.

kemudian Ṣirāṭ al-Mustaqīm dijelaskan pada ayat berikutnya, yaitu: 

Al-Fatihah:7

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan kepada mereka dari hamba-hamba-Mu berupa hidayah, yaitu dari kalangan para nabi, orang-orang yang benar imannya (para ṣiddīqīn) , orang-orang yang mati syahid, orang-orang Shalih. (lihat QS. An Nisa 69). Mereka adalah teman terbaik dan mereka  itulah orang-orang yang memperoleh Hidayah dan istiqomah. 

Dan jangan Jadikan kami termasuk orang-orang yang menempuh jalan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mau mengikutiny serta tidak mengamalkannya. Mereka adalah  orang-orang Yahudi dan orang-orang seperti mereka. Sedangkan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang tidak diberi petunjuk dari kejahilan mereka hingga akibatnya mereka sesat jalan tidak menemukan jalan yang benar karena keteledoran mereka dalam mencari kebenaran dan mencari petunjuk. Mereka adalah orang-orang Nasrani dan orang-orang yang mengikuti jalan hidup mereka. 

Faedah adanya penjelasan tersebut tadi mempunyai pengertian bahwa orang-orang yang mendapat hidayah itu bukanlah orang-orang Yahudi dan bukan pula orang-orang Kristen. Hanya Allahlah Yang Maha Mengetahui dan hanya kepada-Nyalah dikembalikan segala sesuatu

Di dalam doa ini terkandung obat bagi hati seorang muslim dari penyakit pembangkangan, kebodohan dan kesesatan. dan juga terkandung dalil bahwasannya nikmat paling Agung secara mutlak adalah nikmat Islam. Maka barangsiapa yang lebih mengetahui kebenaran dan lebih mengikutinya maka dia lebih pantas meraih Hidayah jalan yang lurus. Dan  tidak ada keraguan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam adalah  orang-orang yang paling utama meraih hal itu setelah para nabi alaihim salam. maka ayat ini menunjukkan keutamaan dan Agung nya kedudukan mereka. Semoga Allah meridoi mereka.

Dan disunnahkan bagi orang yang membaca Alquran dalam sholat untuk mengucapkan “Amin”  setelah membaca surat al-fatihah. dan maknanya adalah  “Ya Allah kabulkanlah doa kami”. dan ia bukan suatu ayat dari surat al-fatihah menurut kesepakatan para ulama oleh karena itu mereka telah bersepakat untuk tidak  menulisnya di dalam mushaf.

Semoga selawat dan salam-Nya dicurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. beserta keluarga dan para sahabatnya, selawat dan salam yang banyak untuk selamanya. Cukuplah bagi kita Allah sebagai penolong dan Dialah sebaik-baik penolong. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan hanya berkat pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Pelajaran dari ayat 1-7:

Ditekankan dan disyariatkan bagi orang yang akan membaca salah satu surat dalam al-Qur’an, untuk memulainya dengan Basmalah. Kecuali saat membaca surat At-Taubah, maka tidak perlu membaca basmalah. Tetap membaca basmalah secara pelan ketika membaca surat walaupun dalam sholat wajib jahriyah.

Disunnahkan untuk membaca bismillah ketika hendak makan dan minum, memakai pakaian, ketika masuk atau keluar dari masjid, ketika mengendarai kendaraan, dan setiap melakukan perkara yang baik. Kemudian diwajibkan untuk mengucapkan bismillahi allahu akbar ketika menyembelih binatang.

Ayat 2-4
Bahwasanya Allah Ta’ala menyukai pujian, sehingga Allah memuji dirinya sendiri dan memerintahkan hamba-hambaNya untuk memujiNya.

Pujian itu tidaklah muncul kecuali ada sebabnya, kalau tidak ada sebab musababnya hanyalah palsu dan manis di bibir saja. Allah Ta’ala ketika memuji dirinya sendiri menyebutkan alasannya, yaitu karena Allah adalah Rabb semesta alam, yang memiliki sifat Maha pengasih lagi Maha penyayang, dan Dia-lah Penguasa hari pembalasan.

Penetapan kedua nama mulia ini “Ar-Rahmaan ar-Rahiim” bagi ‘Azza Wa Jalla dan penetapan adanya segala konsekuensi dari rahmat Allah yang berupa sifat dan rahmat Allah yang berupa perbuatan,

Rububiyah Allah dibangun di atas rahmat-Nya yang luas yang tercurahkan kepada makhluk-Nya, karena ketika Allah Ta’ala berfirman “Rabbil ‘aalamiin” seakan-akan ada yang bertanya: Jenis rububiyah yang mana? Apakah rububiyah bermakna azab dan siksa ataukah rububiyah bermakna rahmat dan karunia? Allah Ta’ala menjawab: Ar-Rahmaanir-Rahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

Ayat 5 - 7
Pemurnian ibadah hanya kepada Allah, sesuai firman-Nya: إِيَّاكَ نَعْبُدُ
Pemurnian isti’anah (permintaan pertolongan) hanya kepada Allah, sesuai firman-Nya :  وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Motivasi untuk senantiasa berdoa kepada Allah serta menundukkan diri di hadapanNya. Dalam hadits di sebutkan,”Doa adalah ibadah.”

Mengakui nikmat yang diberikan oleh Allah, Meminta teladan yang baik, Motivasi untuk menempuh jalannya orang-orang shalih serta ancaman agar tidak menempuh jalannya orang-orang yang celaka.


Allahu 'alam
-----------------
Daftar Pustaka : 

1. Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

2. Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

3. Tafsir Jalalain / Jalaluddin al-Mahally asy-Syafi'i dan Jalaluddin al-Suyuthi asy-Syafi'i

4. Sumber Pelajaran dari ayat adalah Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi

5. Referensi : TafsirWeb.com