002. Al Baqarah ayat 13-16

 Al-Baqarah:13

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا۟ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُ ۗ أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَـٰكِن لَّا يَعْلَمُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang lain yang telah beriman!" Mereka menjawab, "Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?" Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu.

Makna kata :

ٱلسُّفَهَآءُ : As-Sufahaa’ merupakan bentuk jamak dari Safiih (bodoh) yang berarti akalnya kurang, tidak bisa berpikir dan berusaha sendiri.

Tafsir

Apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain yang telah beriman!" apabila dikatakan kepada orang-orang munafik “berimanlah kalian sebagaimana para sahabat Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang telah beriman yaitu beriman dengan hati, lisan dan anggota tubuh, mereka menjawab secara angkuh dan sinis :

Apakah kami akan beriman sebagaimana berimannya orang-orang yang kurang akal itu beriman?  Apakah kami beriman seperti beriman nya orang-orang yang lemah akal dan pemikirannya sehingga kami dan mereka nantinya sama dalam kebodohan? Artinya kami tidak akan melakukan seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh itu. Maka Allah Ta'ala menolak ucapan mereka itu: 

Ketahuilah, merekalah orang-orang yang kurang akal tetapi mereka tidak tahu. maka Allah menjawab mereka dengan menyatakan bahwa sesungguhnya kebodohan hanya melekat pada mereka sedangkan mereka tidak sadar bahwa apa yang ada pada mereka sendiri adalah kesesatan dan kerugian. Padahal sejatinya merekalah yang bodoh, tetapi mereka tidak mengetahuinya.


Al-Baqarah:14

وَإِذَا لَقُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا۟ إِلَىٰ شَيَـٰطِينِهِمْ قَالُوٓا۟ إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَ

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman." Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, "Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok."

Makna kata :

لَقُواْ al-Mulaaqaah berarti bertemu secara tatap muka

ءَامَنُواْ Aamanuu : Iman secara syar’i adalah meyakini tentang Allah dari semua yang diberitakan oleh Rasulullah g dari Allah. Orang yang meyakininya dinamakan orang mukmin yang sejati.

خَلَوۡاْ al-Khuluwwu bisyai’i artinya adalah berpaling darinya

شَيَٰطِينِهِمۡ asy-Syaithoon maknanya adalah segala sesuatu yang jauh dari kebaikan, dekat kepada keburukan. Berbuat kerusakan dan tidak melakukan perbaikan, baik itu manusia ataupun. Adapun yang dimaksud di sini adalah para pembesarnya dalam melakukan keburukan dan kerusakan.

مُسۡتَهۡزِءُونَ al-istihzaa’u meremehkan dan merendahkan orang lain.

Tafsir

Dan jika mereka berjumpa asalnya 'laqiyuu' lalu dhomah pada ya dibuang karena beratnya pada lidah berikut ya itu sendiri, karena bertemunya dalam keadaan sukun dengan wau sehingga menjadi 'laquu' 

Orang-orang munafik tersebut apabila bertemu dengan kaum Mukminin mereka berkata: “kami membenarkan agama Islam seperti kalian”. Mereka mengatakan hal itu karena takut kepada orang-orang mukmin, 

Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, "Sesungguhnya kami bersama kamu, Akan tetapi jika mereka berpaling dan pergi (kepada setan-setan mereka) maksudnya mendatangi para pemuka mereka yang kafir lagi membangkang terhadap Allah, mereka menegaskan di hadapan para tokoh itu bahwa mereka tetaplah di atas kekafiran yang dulu dan tidak meninggalkannya, maksudnya sependirian dengan kamu dalam keagamaan.

kami hanya berolok-olok. kami sengaja menunjukkan sikap setuju dengan orang-orang yang mukmin, sekedar mengolok-olok kaum mukminin dan mengejek mereka, dengan berpura-pura beriman. 

Mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami tetap bersama kalian dan sejalan dengan kalian, tetapi kami sengaja menunjukkan sikap setuju dengan orang-orang yang mukmin semata-mata untuk mengejek dan mengolok-olok mereka.”

Al-Baqarah:15

ٱللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِى طُغْيَـٰنِهِمْ يَعْمَهُونَ

Allah akan memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

Makna kata :

طُغۡيَٰنِهِمۡ Ath-Thughyaan artinya melewati batas dalam suatu perkara dan berlebih-lebihan di dalamnya.

Tafsir

Allah akan memperolok-olokkan mereka Allah akan membalas ejekan mereka dan menunda menyiksa mereka supaya mereka kian bertambah besar dalam kesesatan dan kebimbangan dan semakin ragu-ragu, dan Allah mengolok-olok mereka untuk membalas tindakan mereka yang telah mengolok-olok orang-orang mukmin, sebagai balasan yang setimpal dengan perbuatan mereka. 

Oleh karena itu, di dunia Allah memberlakukan kepada mereka ketentuan hukum yang sama dengan kaum muslimin. Adapun di akhirat, Allah akan memberikan balasan yang setimpal dengan kekafiran dan kemunafikan mereka. Dan Allah menangguhkan siksa mereka agar mereka terus bergelimang dalam kesesatan dan kejahatan mereka, sehingga mereka senantiasa diliputi kebingungan dan kebimbangan.

dan membiarkan mereka terpedaya (dalam kesesatan mereka) yakni melanggar batas disebabkan kekafiran.

terumbang-ambing dalam keadaan bingung tanpa tujuan atau pegangan.


Al-Baqarah:16

أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشْتَرَوُا۟ ٱلضَّلَـٰلَةَ بِٱلْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَـٰرَتُهُمْ وَمَا كَانُوا۟ مُهْتَدِينَ

Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.

Makna kata :

تِّجَٰرَتُهُمۡ At-Tijaroh adalah membayarkan modal untuk membeli sesuatu yang menghasilkan laba ketika dijual. Orang munafik menjual modal mereka yaitu keimanan untuk membeli kekufuran dengan harapan mendapatkan kemuliaan dan kekayaan di dunia. Akan tetapi mereka merugi dan tidak menghasilkan laba apapun, hanya mendapat kehinaan, adzab, dan kemiskinan karena kekufuran yang dilakukannya.

مُهْتَدِينَ  Al-Muhtadiy adalah orang yang menempuh jalan lurus yang menghantarkan untuk mencapai apa yang diinginkannya dalam waktu yang singkat tanpa terjatuh dalam kesesatan, sedangkan kebalikannya adalah orang yang menempuh jalan yang bengkok tidak menghantarkan kepada yang diinginkan sampai mereka hancur sebelum mencapai tujuan.

Tafsir

Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, artinya mengambil kesesatan sebagai pengganti petunjuk, Orang-orang munafik tersebut telah menjual diri mereka dengan sebuah  transaksi yang akan merugikan. Dimana mereka lebih memilih kekafiran dan meninggalkan keimanan Mereka itu orang yang benar-benar bodoh, (karena mereka mengganti keimanan dengan kekufuran.)

Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung bahkan sebaliknya mereka merugi, karena membawa mereka ke dalam neraka yang menjadi tempat kediaman mereka untuk selama-lamanya. Mereka tidak mendapatkan sesuatu apapun justru mereka rugi karena kehilangan Hidayah dan kehilangan keimanan kepada Allah, dan mereka tidak menemukan jalan yang benar.. Dan  inilah kerugian nyata.

Dan tidaklah mereka mendapat petunjuk disebabkan perbuatan mereka itu.


Pelajaran dari ayat :

1. Orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi selalu berasalan bahwa perbuatannya sebagai bentuk perbaikan bukan sebagai kerusakan.

2. Pemberitahuan tentang orang-orang munafik dan peringatan dari kelakuan mereka yang memiliki dua wajah, bertemu dengan orang ini dengan wajah baik, dan bertemu orang lain dengan wajah buruknya. Dalam hadits disebutkan,”Orang yang paling buruk di antara kalian adalah bermuka dua.”

3. Ada sebagian manusia yang menjadi setan dengan mengajak kepada kekufuran dan kemaksiatan, menyuruh perbuatan munkar dan melarang perbuatan baik.

4. Penjelasan mengenai pembalasan Allah terhadap musuh-musuhNya.


Allahu 'alam
-----------------
Daftar Pustaka : 

1. Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

2. Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

3. Tafsir Jalalain / Jalaluddin al-Mahally asy-Syafi'i dan Jalaluddin al-Suyuthi asy-Syafi'i

4. Sumber Pelajaran dari ayat adalah Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi

5. Referensi : TafsirWeb.com