An-Nas:1-3
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ , مَلِكِ ٱلنَّاس , إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ
Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia,
Aku berlindung kepada Tuhannya manusia Katakanlah wahai rasul, "Aku berpegang teguh dan berlindung serta bernaung kepada Rabb manusia yang maha Kuasa satu-satunya untuk menolak keburukan was-was. Yang menciptakan dan Yang memiliki mereka (manusia), di sini manusia disebutkan secara khusus sebagai penghormatan buat mereka, dan sekaligus untuk menyesuaikan dengan pengertian Isti'adzah dari kejahatan yang menggoda hati mereka.
Raja manusia yang bertindak terhadap segala urusan mereka, maha Kaya, tidak membutuhkan mereka, yang berbuat terhadap manusia sekehendak-Nya, tidak ada raja lain selain-Nya.
Tuhan Sesembahan manusia yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia, Sesembahan yang benar, tidak ada sesembahan lain yang benar bagi manusia selain Dia
ayat 2 dan 3 berkedudukan sebagai Badal atau sifat, atau 'Athaf Bayan, kemudian Mudhaf Ilaih. Lafal An-Naas disebutkan di dalam kedua ayat ini, dimaksud untuk menambah jelas makna.
An-Nas:4
مِن شَرِّ ٱلْوَسْوَاسِ ٱلْخَنَّاسِ
dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,
Dari kejahatan dan ganguan setan yang menimpakan bisikannya kepada manusia tatkala ia lalai dari zikir kepada Allah, dan yang lari dari manusia jika ia mengingat Allah.
Setan dinamakan bisikan karena kebanyakan godaan
yang dilancarkannya itu melalui bisikan
yang biasa bersembunyi karena setan
itu suka bersembunyi dan meninggalkan hati manusia bila hati manusia ingat
kepada Allah.
An-Nas:5
ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ
yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
Setan itu menyusupkan dan meniupkan keburukan dan keraguan dalam jiwa atau hati manusia di kala mereka lalai mengingat Allah
An-Nas:6
مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ
dari (golongan) jin dan manusia.
Dari setan-setan golongan jin dan manusia, lafal ayat ini menjelaskan pengertian setan yang menggoda itu, yaitu terdiri
dari jenis jin dan manusia, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lainnya,
yaitu melalui firman-Nya,
شَيَـٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى
"yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis
jin." (Q.S. Al-An'am, 112)
Atau lafal Minal Jinnati menjadi Bayan dari lafal
Al-Waswaasil Khannaas, sedangkan lafal An-Naas di'athafkan kepada lafal
Al-Waswaas.
Tetapi pada garis besarnya telah mencakup kejahatan yang dilakukan
oleh Lubaid dan anak-anak perempuannya yang telah disebutkan tadi. Pendapat
pertama yang mengatakan bahwa di antara yang menggoda hati manusia adalah
manusia di samping setan, pendapat tersebut disanggah dengan suatu kenyataan,
bahwa yang dapat menggoda hati manusia hanyalah bangsa jin atau setan saja.
Sanggahan ini dapat dibantah pula, bahwasanya manusia pun dapat pula menggoda
manusia lainnya, yaitu dengan cara yang sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka
sebagai manusia. Godaan tersebut melalui lahiriah, kemudian merasuk ke dalam
kalbu dan menjadi mantap di dalamnya, yaitu melalui cara yang dapat menjurus ke
arah itu. Akhirnya hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.
Allahu 'alam
-----------------
Daftar Pustaka :
1. Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia
2. Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram
3. Tafsir Jalalain / Jalaluddin al-Mahally asy-Syafi'i dan Jalaluddin al-Suyuthi asy-Syafi'i
4. Sumber Pelajaran dari ayat adalah Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi