001. Al Baqarah ayat 6-7

 Golongan orang-orang kafir

Al-Baqarah:6

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang kafir,1 sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.

Makna kata :

كَفَرُواْ : Al-Kufru secara bahasa adalah penyelubungan dan penolakan. Adapun secara syariat adalah mendustakan Allah atau syariat yang dibawa oleh rasulNya baik sebagian atau keseluruhan.

سَوَآءٌ maknanya adalah sama saja mau diperingatkan ataupun tidak, karena tidak ada faidahnya. Sebab Allah sudah memutuskan untuk tidak memberikan hidayahNya kepada mereka.

ءَأَنذَرۡتَهُمۡ : Al-Indzaar artinya ancaman terhadap balasan dari kekufuran, kedzaliman, dan kerusakan di muka bumi.

Tafsir :

(Sesungguhnya orang-orang kafir) seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan lainnya yang mengingkari apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu karena kesombongan, kesewenangan dan larut dalam kesesatan dan pembangkangan mereka.

(sama saja bagi mereka, apakah kamu beri peringatan) dibaca, ءَأَنذَرْتَهُمْ (a-andzartahum), yakni dengan dua buah hamzah secara tegas. Dapat pula hamzah yang kedua dilebur menjadi alif hingga hanya tinggal satu hamzah saja yang dibaca panjang. 

(atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman) maka ada atau tidak adanya peringatanmu kepada mereka akan sama saja, keimanan tidak akan terjadi dari mereka baik engkau -wahai Rasul- telah menakuti dan memperingatkan mereka dari siksa Allah, ataupun engkau tidak melakukan itu, karena  mereka terus menerus  berada di atas kebatilan mereka. Hal itu telah diketahui oleh Allah, maka janganlah kamu berharap mereka akan beriman. أَنذَرْ 'Indzar' atau peringatan, artinya pemberitahuan disertai ancaman.

Al-Baqarah:7

خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصَـٰرِهِمْ غِشَـٰوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.

Makna kata :

خَتَمَ ٱللَّهُ maknanya mengunci mati, karena al-Khotaam dan ath-Thoba’ memiliki arti yang sama yaitu melakukan stempel pada amplop sehingga tidak diketahui isinya, dan tidak bisa dibuka sehingga dapat diganti atau dirubah.

غِشَٰوَةٞۖ Al-Ghisyaawah artinya adalah penutup yang membuat sesuatu menjadi tertutupi sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat menyentuhnya.

Tafsir : 

(Allah mengunci mati hati mereka) maksudnya menutup rapat hati mereka sehingga tidak dapat dimasuki oleh kebaikan. Allah telah mengunci/menyegel dan menutup hati mereka beserta kebatilan yang ada di dalamnya,

(begitu pun pendengaran mereka) maksudnya alat-alat atau sumber-sumber pendengaran mereka dikunci sehingga mereka tidak memperoleh manfaat dari kebenaran yang mereka terima, Allah menutup telinga mereka sehingga tidak bisa mendengarkan kebenaran untuk diterima dan diikuti dan,

(sedangkan penglihatan mereka ditutup) dengan penutup yang menutupinya sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran, Allah menutup mata mereka sehingga tidak bisa melihat kebenaran yang sangat jelas di hadapan mereka, disebabkan kekafiran dan penolakan keras mereka setelah jelas kebenaran bagi mereka, maka Allah tidak memberikan Taufik bagi mereka untuk mendapat Hidayah dan,

(dan bagi mereka siksa yang besar) yang berat lagi tetap. yaitu bagi mereka akan mendapatkan siksaan dan azab yang sangat berat dan keras di neraka jahanam. 

Pelajaran dari ayat :

1. Penjelasan mengenai sunnatullah bagi orang-orang yang menentang, sombong, dan terus menerus dalam kekufurannya bahwa Allah mengharamkan hidayah bagi mereka, dengan cara melumpuhkan panca inderanya yang mengakibatkan mereka tidak dapat mengambil manfaat, dan pada akhirnya mereka tidak beriman dan tidak mendapat petunjuk.

2. Peringatan agar tidak terus menerus dalam kekufuran, kedzaliman, dan berbuat kerusakan di muka bumi agar tidak mendapat adzab yang pedih.

Allahu 'alam
-----------------
Daftar Pustaka : 

1. Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

2. Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

3. Tafsir Jalalain / Jalaluddin al-Mahally asy-Syafi'i dan Jalaluddin al-Suyuthi asy-Syafi'i

4. Sumber Pelajaran dari ayat adalah Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi

5. Referensi : TafsirWeb.com