001. Al Baqarah ayat 8-10

 Al-Baqarah:8

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ

Dan di antara manusia ada yang berkata, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir," padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.

Makna kata :

وَمِنَ ٱلنَّاسِ Wa minannaasi : artinya dari sebagian manusia

مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ Man yaquulu aamannaa billahi : Di antara mereka ada yang berkata,”Kami membenarkan Allah sebagai Tuhan dan sesembahan, tidak ada Tuhan dan sesembahan selain-Nya.”

وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ Wa bil yaumil aakhiri : Maknanya perkataan mereka,”Kami beriman dengan adanya kebangkitan dan pembalasan pada hari kiamat nanti.”

Tafsir :

Di antara manusia ada sekelompok orang yang bimbang dan bingung antara menjadi bagian dari orang-orang yang beriman atau menjadi bagian dari orang-orang yang kufur, dan mereka itu adalah orang-orang munafik yang dengan lisan mereka mengatakan 

kami beriman kepada Allah dan hari akhir” yaitu hari kiamat, karena hari itu adalah hari terakhir, sedangkan secara batin mereka berdusta dan tidak beriman, Mereka mengatakan hal itu dengan mulut mereka semata-mata karena mereka mencemaskan keselamatan jiwa dan harta benda mereka. Padahal di dalam batin mereka tersimpan kekafiran.

Al-Baqarah:9

يُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.

Makna kata :

يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ Yukhoodi’uunallaha : Yaitu mereka hendak menipu Allah dengan menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran.

وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ Wa maa yakhda’uuna illaa anfusahum : Yaitu bahwa akibat dari tipuan yang mereka lakukan akan kembali kepada diri mereka sendiri, tidak berpengaruh terhadap Allah, rasulNya, maupun orang-orang mukmin.

وَمَا يَشۡعُرُونَ Wa maa yasy’uruun : Mereka tidak mengetahui bahwa akibat dari tipuan yang dilakukan kembali kepada mereka sendiri.

Tafsir :

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman yakni dengan berpura-pura beriman dan menyembunyikan kekafiran guna melindungi diri mereka dari hukum-hukum duniawi, karena kebodohan dan kejahilan mereka, mereka mengira dan meyakini akan menipu Allah dan orang-orang mukmin dengan memperlihatkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. 

(padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiripadahal tidaklah mereka menipu kecuali diri mereka sendiri sebab akibat buruk dari tipu daya mereka itu hanya berbalik kepada mereka sendiri. Di dunia, rahasia mereka akan diketahui juga dengan dibuka Allah kepada Nabi-Nya, sedangkan di akhirat mereka akan menerima hukuman setimpal, Karena Allah -Ta'ālā- mengetahui rahasia dan apa yang lebih tersembunyi dari itu. Allah memberitahu orang-orang mukmin tentang sifat-sifat dan keadaan mereka yang sesungguhnya.

(tetapi mereka tidak menyadaridan karena parahnya kebodohan mereka, mereka tidak menyadari hal tersebut dikarenakan rusaknya hati mereka. Mukhada`ah atau tipu-menipu di sini muncul dari satu pihak, jadi bukan berarti berserikat di antara dua belah pihak. Contoh yang lainnya mu`aqabatul lish yang berarti menghukum pencuri. Menyebutkan Allah di sana hanya merupakan salah satu dari gaya bahasa saja. Menurut suatu qiraat tidak tercantum وَمَا يَشْعُرُونَ 'wamaa yasy`uruuna' tetapi 'wamaa yakhda`uuna' وَمَا يَخْدَعُونَ , artinya 'tetapi mereka tidak berhasil menipu'.

Al-Baqarah:10

فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ

Dalam hati mereka terdapat penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta.

Makna kata :

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ Fii quluubihim marodhun : Yakni di dalam hatinya terdapat keraguan, kemunafikan, rasa sakit karena takut rahasianya akan terbongkar sehingga mendapatkan adzab atas dirinya.

فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضٗاۖ Fazaadahumullahu marodho : Artinya ditambah dengan keraguan, kemunafikan, rasa sakit dan ketakutan karena sudah sunatullah bahwa keburukan akan ditambah dengan keburukan.

عَذَابٌ أَلِيمُۢ ‘Adzaabun aliim : Yaitu adzab yang amat pedih menimpa jiwa.

Tafsir :

(Dalam hati mereka ada penyakit) berupa keragu-raguan dan kemunafikan yang menyebabkan sakit atau lemahnya hati mereka. Penyebabnya ialah karena di dalam hati mereka terdapat keraguan, akibatnya mereka diuji Allah dengan berbuat berbagai macam maksiat yang mewajibkan adanya siksaan bagi mereka.

(Lalu ditambah Allah penyakit mereka) dengan menurunkan Alquran yang mereka ingkari, lalu Allah menambah keraguan itu dengan keraguan lainnya, karena setiap perbuatan akan dibalas dengan perbuatan serupa.

(Dan bagi mereka siksa yang pedih) akibat kedustaan dan kemunafikan mereka. Kelak mereka akan mendapatkan azab yang sangat pedih yang menyakitkan di kerak neraka yang paling bawah.

(disebabkan kedustaan mereka.) Hal itu karena mereka telah berdusta atas nama Allah dan atas nama manusia lainnya. Dan juga karena mereka mendustakan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.

Yukadzdzibuuna dibaca pakai tasydid, artinya amat mendustakan, yakni terhadap Nabi Allah dan tanpa tasydid 'yakdzibuuna' yang berarti berdusta, yakni dengan mengakui beriman padahal tidak.

Pelajaran dari ayat :

1. Peringatan agar tidak melakukan kedustaan, kemunafikan, dan tipu daya
2. Begitu juga balasan dari tipu daya yang dilakukan akan kembali kepada orang yang menipu itu sendiri.
3. Keburukan akan melahirkan keburukan yang semisalnya.

Allahu 'alam
-----------------
Daftar Pustaka : 

1. Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

2. Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram

3. Tafsir Jalalain / Jalaluddin al-Mahally asy-Syafi'i dan Jalaluddin al-Suyuthi asy-Syafi'i

4. Sumber Pelajaran dari ayat adalah Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi

5. Referensi : TafsirWeb.com