Al-Lahab:1
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia!
Merugilah kedua tangan Abu Lahab (paman Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- Abu Lahab bin Abdul Muṭṭalib) dan sengsara, sebab perbuatannya, karena dia telah menyakiti Rasulullah sholallohu alaihi wasallam. Sungguh kerugian Abu Lahab telah terwujud, dan gagallah usahanya.
(kedua tangan Abu Lahab) maksudnya diri Abu Lahab, di sini diungkapkan dengan memakai kata-kata kedua tangan sebagai ungkapan Majaz/kiasan, karena sesungguhnya kebanyakan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia itu dikerjakan dengan kedua tangannya, kalimat ini mengandung makna doa (dan sesungguhnya dia binasa) artinya dia benar-benar merugi.
Ketika Nabi saw. menakut-nakutinya dengan azab, ia berkata, "Jika apa yang telah dikatakan oleh anak saudaraku itu benar, maka sesungguhnya aku akan menebus diriku dari azab itu dengan harta benda dan anak-anakku." Lalu turunlah ayat selanjutnya, yaitu:
Al-Lahab:2
مَآ أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ
Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan.
Harta dan anaknya tidak berguna baginya, keduanya tidak bisa melindunginya dari azab Allah sedikit pun bila ia turun kepadanya, dan tidak pula keduanya mampu mendatangkan rahmat terhadapnya.
Lafal Aghnaa di sini bermakna Yughnii, artinya tidak akan berfaedah kepadanya harta dan anak-anaknya.
Firman Allah وَمَا كَسَبَ “dan apa yang ia usahakan” dengan makna anak. Mereka menguatkan pendapat mereka ini dengan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلْتُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ، وَإِنَّ أَوْلَادَكُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ
“Sesungguh hasil makan terbaik yang kalian makan adalah berasal dari hasil usaha kalian. Dan Anak-anak kalian adalah dari hasil usaha kalian” (Dikeluarkan Tirmidziy (1358) dan Ibnu Majah (2290) dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dan dinyatakan shahih oleh al-Albaniy dalam al-Jaami’ (1566)
Yang benar: Ayat tersebut lebih luas maknanya dari pendapat itu, ayat ini mencakup anak-anak, harta hasil usaha yang tidak ia pegang saat sekarang, mencakup juga hasil usaha berupa kemuliaan dan kedudukan jabatan. Seluruh hasil usahanya yang bisa menmbah kedudukan dan kemuliaan, itu semua tidak bermanfaat baginya sedikit pun
مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
“Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” (Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)
Al-Lahab:3
سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka).
Al-Lahab:4
وَٱمْرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ
Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah).
Dia pada hari Kiamat akan masuk api neraka jahanam yang menyala nyala, yang apinya bergejolak, ia bakal merasakan panasnya Begitu juga istriya yang membawa duri-duri lalu meletakkannya di jalan yang dilalui oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menyakiti beliau, juga akan masuk ke dalam Neraka.
سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ api yang bergejolak (neraka) kata-kata ini pun dijadikan pula sebagai julukan namanya, karena ia mempunyai muka yang berbinar-binar memancarkan sinar merah api.
وَٱمْرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ (Dan begitu pula istrinya) lafal ini di'athafkan kepada Dhamir yang terkandung di dalam lafal Yashlaa, hal ini diperbolehkan karena di antara keduanya terdapat pemisah, yaitu Maf'ul dan sifatnya; yang dimaksud adalah Umu Jamil (pembawa) dapat dibaca Hammalaatun dan Hammaalatan (kayu bakar) yaitu duri dan kayu Sa'dan yang banyak durinya, kemudian kayu dan duri itu ia taruh di tengah jalan tempat Nabi shallalahu alaihi wasalam lewat.
Al-Lahab:5
فِى جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍۭ
Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.
Dileher istrinya ada tali yang kuat dari sabut yang kasar dan keras, menggiringnya menuju Neraka, dia diangkat dengannya di dalam api neraka jahanam kemudian di lemparkan kebawahnya.
(Yang di lehernya) atau pada lehernya (ada tali dari sabut) yakni pintalan dari sabut; Jumlah ayat ini berkedudukan menjadi Haal atau kata keterangan dari lafal Hammaalatal Hathab yang merupakan sifat dari istri Abu Lahab. Atau kalimat ayat ini dapat dianggap sebagai Khabar dari Mubtada yang tidak disebutkan.
Allahu 'alam
-----------------
Daftar Pustaka :
1. Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia
2. Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram
3. Tafsir Jalalain / Jalaluddin al-Mahally asy-Syafi'i dan Jalaluddin al-Suyuthi asy-Syafi'i
4. Sumber Pelajaran dari ayat adalah Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi