Al-Ikhlas:1
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ
Katakanlah (Muhammad), "Dialah Allah, Yang Maha Esa.
Katakanlah (wahai rasul), “Dia lah Allah pemilik tunggal uluhiyah dan rububiyah, nama nama dan sifat sifat, tidak seorangpun yang bersekutu dengan NYA.”
lafal ٱللَّهُ Allah adalah Khabar dari lafal هُوَ Huwa, sedangkan lafal أَحَدٌ Ahadun adalah Badal dari lafal Allah, atau Khabar kedua dari lafal Huwa
Al-Ikhlas:2
ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ
Allah tempat meminta segala sesuatu.
Dialah Allah yang sempurna dalam sifat-sifat kemuliaan dan keutamaan serta keagungan, Żat Yang menjadi tumpuan semua makhluk dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan.
lafal ayat ini terdiri dari Mubtada dan Khabar; artinya Dia adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu untuk selama-lamanya.
{ الصَّمَدُ } Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsir beliau meriwayatkan ucapan shahabat yang mulia Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berkata:
Ash-Shamad adalah penguasa yang maha sempurna kekuasaan-Nya, maha mulia yang sempurna kemuliaan-Nya, maha agung yang sempurna keagungan-Nya, maha penyantun yang sempurna sifat penyantun-Nya, maha kaya yang sempurna kekayaan-Nya, maha perkasa yang sempurna keperkasaan-Nya, maha mengetahui yang sempurna pengetahuan-Nya, dan maha bijaksana yang sempurna hikmah/kebijaksanaan-Nya, Dialah yang maha sempurna dalam semua bentuk kemuliaan dan kekuasaan, Dialah Allah yang maha suci dan sifat-sifat ini hanyalah pantas (diperuntukkan) bagi-Nya. (Tafsir Juz 'Amma / Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan)
Al-Ikhlas:3
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
Dia tidak melahirkan karena tiada yang menyamai-Nya dan tidak pula dilahirkan oleh sesuatu karena mustahil hal ini terjadi bagi-Nya, maka Dia -Subḥānahu- tidak mempunyai anak -Mahasuci Allah- dan tidak pula mempunyai bapak, dan tidak juga istri.
Al-Ikhlas:4
وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ
Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.
Dan Dia tidak punya tandingan, tidak ada yang menyamai-Nya dari ciptaan-Nya atau makhluk NYA, tidak dalam nama nama NYA,tidak dalam sifat-sifat NYA, tidak pula dalam perbuatan-perbuatan NYA, maha banyak kebaikan NYA, maha tinggi, dan maha Suci.
lafal Lahu berta'alluq kepada lafal Kufuwan. Lafal Lahu ini didahulukan karena
dialah yang menjadi subjek penafian; kemudian lafal Ahadun diakhirkan letaknya
padahal ia sebagai isim dari lafal Yakun, sedangkan Khabar yang seharusnya
berada di akhir mendahuluinya; demikian itu karena demi menjaga Fashilah atau
kesamaan bunyi pada akhir ayat.
Allahu 'alam
-----------------
Daftar Pustaka :
1. Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia
2. Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram
3. Tafsir Jalalain / Jalaluddin al-Mahally asy-Syafi'i dan Jalaluddin al-Suyuthi asy-Syafi'i
4. Sumber Pelajaran dari ayat adalah Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi
5. Referensi : TafsirWeb.com